pembubaran lokalisasi, yes or no?

Praktek prostitusi sudah ada sejak awal bermulanya peradaban manusia. Praktek ini sudah menemani kita sekian lama dan telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Terbukti bahwa sampai sekarang prostitusi masih ada dan cara penyajiannya terus diperbaharui sehingga pelanggan pun menjadi lebih mudah untuk mengakses dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Saat ini ada banyak sekali cara pelacuran dapat dilakukan. Misalnya dari tempat hiburan malam, panti pijat yang menyediakan fasilitas tambahan, pelayanan seks juga bisa kita dapatkan di beberapa salon kecantikan, dan yang paling populer dan terang-terangan adalah lokalisasi. Ada pro dan kontra mengenai adanya lokalisasi.

Lokalisasi menjadi bermasalah dan menjadi adanya kontra dari masyarakat karena lokalisasi bersifat terang-terangan dan dapat diakses oleh siapa saja. Selain itu lokalisasi dianggap dapat merusak moral anak-anak di sekitar lokalisasi dan pastinya bertentangan dengan ajaran agama.  Ada juga yang berpendapat bahwa dengan adanya lokalisasi dapat menyebabkan kerusakan rumah tangga orang. Sering juga terjadi human trafficking. Sebagian besar korbannya adalah wanita dari pedesaan yang terperdaya oleh tipu muslihat penjual wanita itu. Wanita-wanita yang tertipu akan dijual ke lokalisasi yang memesan. Sesampai di lokalisasi wanita-wanita tersebut akan dibiayai penghidupannya oleh pemilik yang pada akhirnya akan menjadi utang yang harus dibayar dengan cara menjadi PSK.

Adapun sisi positif dari adanya lokalisasi adalah sebagai media yang menyediakan lapangan pekerjaan. Misalnya lokalisasi “Dolly” yang berada di Surabaya yang konon merupakan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Lokalisasi ini telah menjadi suatu ikon kota Surabaya. Perputaran uang di sana cukup besar per harinya.  Bersamaan dengan roda bisnis seks yang berputar, ekonomi masyarakat juga berdenyut. Banyak sekali masyarakat sekitar yang kecipratan rezeki dengan adaanya lokalisasi tersebut, misalnya dengan membuka lahan parkir dan memasang tarif yang tinggi, berjualan rokok, bir, kondom dan makanan yang pastinya dengan harga spesial. Ada juga yang menjual baju, menjadi  tukang cuci, dan sebagainya. Para pedagang di sana sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil jualannya.

Jadi menurut saya satu-satunya yang tidak benar dalam lokalisasi itu adalah adanya unsur human trafficking  dalam mendapatkan PSK-PSK yang baru. Oleh karena itu yang harus ditindaklanjuti adalah para pelaku human trafficking itu bukannya menutup lokalisasi. Selain itu penutupan lokalisasi tanpa menyediakan lapangan pekerjaan bukan merupakan solusi yang tepat. Para PSK yang sudah terbiasa hidup dengan  menjual diri walaupun ditawarkan suatu pekerjaan baru, belum tentu mereka akan memilih jalan tersebut. Mereka  akan kembali ke profesi mereka dengan menjajakan diri di pusat kota yang merusak pemandangan. Jika dilihat dari sisi moral, seharusnya yang disalahkan bukanlah keberadaan lokalisasi tersebut melainkan para pelanggan yang datang, karena keberadaan lokalisasi itu tidak pernah dipublikasikan. Adanya lokalisasi juga dikarenakan adanya permintaan. Jika masyarakatnya memiliki moral yang tinggi maka lokalisasi itu akan sendirinya bubar.

About these ads
This entry was posted in lain-lain. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s