Proses Pembentukkan Pemimpin yang Ideal

Berbagai macam teori kepemimpinan sekarang, dapat diakses dari berbagai sumber seperti buku, internet maupun seminar-seminar tentang kepemimpinan. Kebutuhan akan teori-teori kepemimpinan membuat banyak sekali orang menulis buku tetang cara menjadi pemimpin sesuai dengan pengalaman masing-masing. Ada juga orang yang bahkan rela membayar mahal untuk mengikuti seminar kepemimpinan. Menjadi seorang pemimpin adalah suatu keharusan, mulai  dari hal kecil seperti memimpin diri sendiri, memimpin sebuah keluarga, memimpin sebuah organisasi, memimpin sebuah perusahaan atau yang lebih sulit lagi adalah memimpin sebuah negara. Tetapi untuk menjadi seorang pemimpin yang baik tidaklah bisa dengan hanya menguasai teorinya. Diperlukan langsung terjun ke lapangan untuk mempraktekkannya. Untuk mengembangkan kemampuan memimpin juga harus dilatih secara bertahap.

Dalam menjadi seorang pemimpin banyak nilai crucial yang harus dimiliki. Salah satunya adalah meletakkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Kondisi Indonesia sekarang adalah terjadinya kelangkaan akan pemimpin yang benar-benar memiliki nilai tersebut. Banyak sekali pemimpin yang hanya mengatasnamakan sebgai wakil rakyat, tetapi tidak tahu atau tidak mau tahu masalah yang sedang dialami rakyatnya.

Untuk mengatasi masalah kelangkaan pemimpin dan mencegah supaya calon-calon pemimpin yang baru tidak terpengaruh oleh boroknya sistem di dalam pemerintahan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

Pertama, membentuk sekolah yang lebih menekankan pelajaran tentang moral, agama, dan sejarah di samping matapelajaran eksak.

Moral yang mengajarkan norma-norma cara berprilaku dalam kehidupan bermasyarakat akan menjadi salah satu fondasi dalam bertindak. Nilai moral yang dasar seperti tidak boleh mencuri dan berbohong diajarkan di bangku SD karena apa yang diajarkan di masa kanak-kanak akan tertanam lebih kuat di dalam diri anak-anak tersebut.

Porsi agama adalah juga hampir sama dengan pelajaran tentang moralitas yaitu mengajarkan kebaikan. Agama apapun itu tidak akan menjadi masalah karena semua agama mengajarkan hal baik dan melarang yang jahat. Salah satu manfaat beragama juga mengingatkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan berada di bawah pengawasan yang mahakuasa dan harus dipertanggungjawabkan juga pada akhirnya di akhirat.

Sedangkan peran sejarah adalah memupuk rasa cinta tanah air dan jiwa nasionalisme yang kuat. Sejarah perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan Indonesia harus diutamakan. Dari sini jauh lebih terasa akan semangat para pahlawan untuk membebaskan Indonesia dari penjajah. Sesuatu yang diperoleh dari perjuangan keras akan jauh lebih berharga. Ditekankan bahwa tanah sekarang tempat kita berpijak tidak didapatkan secara gratis, tetapi melalui perjuangan yang tidak sedikit mengakibatkan pertumpahan darah.

Dibutuhkan perlakuan khusus supaya inti dari pelajaran di atas benar-benar dipahami dan dijiwai oleh anak-anak tersebut. Terutama nilai-nilai nasionalisme yang diperoleh dari pelajaran sejarah yang memiliki peranan paling besar dalam membangun bangsa dan negara. Sejarah juga sering dianggap sebagai matapelajaran yang membosankan. Oleh karena itu pelajaran sejarah perlu dikemas dalam bentuk yang lebih menarik. Mengajak anak-anak ke tempat bersejarah, mengundang tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan yang masih ada, mengundang sejarawan yang dapat bercerita lebih detail tentang perjuangan para pahlawan,  bisa juga dengan mengadakan nonton bareng video-video kemerdekaan seperti misalnya pidato Bung Karno.

Tetapi yang terjadi di Indonesia saat ini adalah kebanyakan sekolah terlalu fokus pada akademik eksak seperti matematika, fisika, dan kimia. Padahal sepintar apapun seorang manusia jika tidak didasari oleh nilai yang didapat dari pendidikan moral, agama, dan sejarah tidak akan banyak berguna untuk membangun bangsa dan negara. Untuk menghasilkan seorang pemimpin yang cerdas tidaklah susah dan sudah banyak jumlahnya. Berbeda halnya jika ingin membuahkan pemimpin cerdas yang berkarakter dan memiliki ketiga nilai di atas. Untuk menanamkan nilai-nilai tersebut dibutuhkan waktu yang lama karena yang dibentuk bukanlah kecerdasan logika tetapi kecerdasan emosional.

Kedua, membentuk komunitas yang mempunyai visi misi membangun Indonesia menjadi lebih baik. Program dari komunitas ini adalah menghasilkan dua jenis pemuda. Jenis pemuda yang pertama adalah pemimpin yang kedepannya akan memimpin negara ini. Para pemuda ini diajarkan dan dilatih kepemimpinannya kemudian diberi pendidikan politik dan juga menanamkan kembali jiwa dan semangat nasionalismenya. Pemuda-pemuda ini harus dipilih dari masyarakat kurang mampu, kemudian diambil yang berpotensi untuk berkembang. Alasan diambil dari masyarakat kurang mampu adalah karena mereka sudah lebih memahami kondisi rakyat golongan bawah. Hal ini akan mempermudah dalam menanamkan nilai nasionalisme mereka. Hasil didikan dari komunitas akan diujikan dengan cara mempromosikan mereka menjadi kepala di daerah baik menjadi gubernur, walikota, ataupun hanya bupati. Selama menjabat sebagai salah satu wakil rakyat, mereka akan terus diawasi oleh komunitas ini. Jika mereka dapat menjalankan tugas mereka dengan baik dan dapat membuat suatu perubahan pada daerah yang dipimpin menjadi lebih baik, maka untuk selanjutnya mereka akan terus dipromosikan untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Begitulah seterusnya sampai mereka dapat menduduki jabatan yang ada di pemerintah pusat. Diharapkan banyak didikan dari komunitas ini dapat melewati ujian-ujian tersebut karena jika sudah memasuki daerah pemerintah pusat, godaan-godaan dari sekumpulan orang yang gemar melakukan hal-hal yang merugikan negara seperti KKN semakin besar. Jadi sangat diharapkan jumlah didikan dari komunitas ini harus banyak untuk mengurangi dampak negatif komunitas yang sering mempraktekkan KKN di dalam pemerintahan.

Kendala yang akan dihadapi pada akhirnya adalah dana yang diperlukan untuk mempromosikan kader-kader tersebut. Masalah ini akan dijawab oleh pemuda jenis yang kedua. Pemuda-pemuda ini juga ditanamkan jiwa nasionalisme dan pendidikan khusus untuk menjadi pengusaha yang handal. Pemuda-pemuda ini dapat diambil dari berbagai golongan masyarakat. Dalam 10 tahun para didikan ini diharapkan sudah dapat membangun suatu bisnis yang dapat mensponsori kader-kader yang akan menjadi pemimpin.

Jadi, dengan adanya dukungan dana secara mandiri, para kader menjadi lebih fokus membangun negara tanpa perlu memikirkan cara untuk mengembalikan dana yang telah dikeluarkan untuk kampanye.

Dengan mengkolaborasi antara sekolah yang mengajarkan nilai-nilai moral, agama, serta nasionalisme sebagai fondasi cara berpikir dengan pendidikan yang diberikan dalam komunitas ini diharapkan dapat menghasilkan pemimpin yang ideal untuk mengembalikan kebesaran bangsa dan negara Indonesia.

 

This entry was posted in sosial ekonomi politik budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s