Pendakian pertama di Gn Semeru part 2

Dari klinik kita langsung berangkat menuju tkp, ranu pani, desa terakhir untuk memulai pendakian. Hari sudah mulai menjelang sore, udara sudah mulai terasa dingin. Kurang dari 15 menit kita sudah berada di ketinggian plusminus 2000dpl. Dinginnya, jalannya menuju ranu itu juga cukup membangkitkan adrenalin. Silap sedikit ya tinggal ucapin selamat ketemu di kehidupan yang akan datang sama semuanya. Tapi smua itu ilang waktu ketemu spot2 yang bagusss banget viewnya, pas banget dalam rombongan kita ada sepasang manusia yang satu narsis dan satunya lagi sedang dalam proses belajar pake kamera SLR. Akhirnya kita berhenti sejenak menikmati pemandangan yang luar biasa itu sambil jepret2.

Setelah puas menikmati pemandangannya, kita melanjutkan perjalanan menyenangkan sekaligus mengerikan. Dan kira2 setengah jam (tak terasa sama sekali waktu telah berlalu setengah jam)kemudian akhirnya kita tiba di desa pertama ranu pane dengan selamat. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat mendekati 6. Sambil mengurus perizinannya kita direkomendasiin oleh supir jeep untuk tinggal di salah satu rumah penduduk yang emank khusus disewakan ke para pendaki yang ingin menginap di ranu pane. Harganya cukup bersahabat kok dengan kantong kita.

Perizinan beres, kita meng-unload backpack2 yang besarnya seperti karung beras ke penginapannya. Ngantri mandi dengan air yang super-super dingin. Serasa lagi spa, bagian kolam dinginnya. Malam jam 7 sudah gelap gulita di sekitar penginapannya. Kita ditawarin  makan bareng dengan pemilik rumah dengan lauk seadanya. Lumayanlah buat ngisi perut dengan sup yang panas.

Kenyang sudah, ngobrol bentar dengan tuan rumah yang beranggotakan sepasang kakek nenek dan seorang ibu yang semuanya merokok. Katanya sich buat hangatin badan. Emang dingin banget sumpah. Next, kita kembali ke kamar dan mulai menyusun strategi menaklukan medan pendakian yang belum punya bayangan sama sekali. Sambil berdiskusi, kita mere-pack barang bawaan kita yang banyaknya seperti mau kemping bukannya hiking. Persiapan yang dibawa dari Bandung ternyata sangat berlebihan. Sewaktu mencoba mengangkat backpack masing2, tau2 untuk berdiri dengan benar aja susah, gmn mau hiking. That’s imposible to bring all of that stuff. Akhirnya, hampir seperempat logistik yang dibawa dari Bandung,kita ditinggal di penginapan.

Inilah hasil diskusi dan perencanaan dari orang2 yang sotoy:

Titik2 pemberhentian sesuai survei dari inet dan buku pedoman ( novel 5cm ):

  1. Ranupani, terdapat sebuah danau dan merupakan desa terakhir sebelum pendakian.
  2. Waturejeng, berupa shelter tempat istirahat di tengah2 hutan.
  3. Ranukumbolo, favorit place, terdapat danau yang airnya bisa langsung diminum.
  4. Oro2ombo, sebuah padang yang sangat luas dengan pemandangan yang sangat indah.
  5. Cemoro kandang, adalah nama hutan yang harus dilalui untuk mencapai kalimati.
  6. Kalimati, sebuah kali yang tidak ada airnya, sebenarnya merupakan bekas aliran lahar  pada masa lalu.
  7. Arcopodo, titik vegetasi terakhir dari puncak.
  8. Puncak, sudah tau la ya. Konon katanya merupakan tempat tinggal para dewa.

Hari pertama: Ranupani-waturejeng-ranukumbolo. (13 km)

Hari kedua: ranukumbolo-oro2ombo-cemoro kandang-kalimati-arcopodo. (13 km)

Hari ketiga: arcopodo-puncak-kembali ke ranupani.

Planning sudah mantap (menurut para pendaki nekat dari Bandung, pertama mendaki langsung ke Mahameru), kita istirahat nyiapin fisik dan mental buat pendakian besok.

Hampir lupa memperkenalkan tim pendaki kita, 4 cowo plus 1 cwe. (Nama di bawah hanya inisial)

Pendaki pertama : BT, tinggi 178cm, kurus, khas punya rambut kribo, dan humoris.

Pendaki kedua: HK, sedikit lebih pendek dari bationg tpi lebih tinggi dari gwe, kurus, paling cakep diantara smua pendaki cwo (menurut penulis).

Pendaki ketiga: KC, tinggi lebih kurang sama dengan saya 170cm, berat badan ideal lewat dikit, photographer kita.

Pendaki keempat: TP, tinggi 150an ga tau pastinya, berat badan lumayan berat J(tidak boleh disebutkan, biasa cwe sensi jika menyinggung tentang berat badan), sedikit diragukan untuk mendaki,hahaha…

Terakhir saya sendiri, OT, tinggi lebih kurang kaya tong, kurus, pencetus ide gila ini dan diikuti pula ma temen2 saya yang nekat.

Ok…  Cerita kita lanjutkan..

Next day in the morning,

Jam menunjukkan pukul 6, kita sudah bangun, sarapan di penginapan tersebut kemudian siap2 untuk berangkat. Jam 7 teng kita sudah terlihat keren banget dengan backpack yang menempel di punggung. Terasa lumayan berat juga. Sebelum berangkat, seperti biasa, ada sesi dokumentasi dulu di pos yang ada tulisan ranupani-nya.

Sudah puas foto2, kita mulai melangkahkan kaki menuju titik perhentian pertama, Ranukumbolo. Mengikuti instruksi dari supir jeep kemarin, ikuti jalan aspal dan puffingblock. Sepanjang jalan, sebelah kanan kita terpampang ladang2 milik penduduk. Jalan lebih kurang 10 menit, ketemulah rintangan pertama, di depan kita ada dua cabang jalan. Satu jalan aspal dan satunya lagi jalan setapak yang penuh lumpur. (dari hasil searching di mang google, mengatakan akan melewati gapura sebelum memasuki jalur hutan). Dan kebetulan kedua2nya mempunyai gapura, tetapi yang bagian jalan setapak gapuranya terlihat kurang meyakinkan. Tak ada orang yang bisa ditanya juga, akhirnya kita mencoba peruntungan dengan tetap mengikuti jalan aspal. Dengan penuh semangat kita menyusuri jalan tersebut. Sesudah melangkah selama setengah jam dan tidak menemukan jalan yang terbuat dari pufingblok, rasa ragu mulai membayangi kepala saya. Terakhir keraguan dikonfirmasi dengan penduduk yang lewat menggunakan motor.

“ Mau kemana mas?” tanya bapak yang lewat tersebut.

“Mau ke puncak Pak”, jawab saya. Siap2 mendengar komentar selanjutnya dari bapak.

“Salah mas, ini jalan menuju desa saya”, kata bapak.

Hahahaha.. semuanya tertawa merasa bodoh sekali. Merasa sial salah arah sekalian beruntung karena baru setengah jam menyusuri jalan yang salah. Sambil membahas kebodohan kita, tak terasa sudah kembali lagi ke persimpangan pertama. Dengan sedikit ragu kita melewati jalur yang satunya lagi. Dan ternyata setelah berjalan kira-kira 100m, ketemulah jalan yang terbuat dari pufingblok.

Hahhh.. kembali semuanya menghela nafas panjang dan berkata, “ akhirnya ketemu”.  Langsung tanpa aba2 semua meletakkan barang bawaannya dan istirahat sejenak. Padahal itu adalah titik awal dari pendakian kita tapi merasa sudah mendaki sangat jauh.

Setelah mengumpulkan tenaga dan semangat yang sempat turun, kita melanjutkan pendakian. Jalursetapak dalam hutan kita tempuh untuk mencapai Ranu kumbolo. Mengitari badan gunung. Awal pendakian jalurnya cukup curam ditambah udara yang dingin membuat sedikit susah bernafas. Tetapi dengan semangat bersama teman2 seperjalanan akhirnya kita dapat melewati trek yang cukup curam tersebut. Berjalan lebih kurang setengah jam akhirnya kita sepakat untuk break sebentar. Perberhentian kali ini lebih santai ditemani dengan biskuit yang dikeluarkan oleh pihak konsumsi (Hans). Selain itu di depan kita jalannya sudah cukup landai. “Lanjuttt..”, salah seorang berseru. Perjalanan ditempuh sampai titik pemberhentian sementara, Waturejeng. Di sana kita bertemu dengan dua pendaki lain yang masih terlihat segar. Ternyata mereka adalah pecinta alam yang sudah terbiasa dengan aktivitas hiking. Sambil bercerita dan berbagi makanan ringan. Tanpa membuang waktu banyak, setelah rasa pegal sedikit berkurang, akhirnya kita berpamitan dengan mereka untuk melanjutkan perjalanan dulu. Berjalan lebih kurang 15 menit kita bertemu lagi dengan dua pendaki yang ternyata baru turun dari puncak mahameru.

“dari puncak pak”, tanya eko.

“Iya mas”, jawab salah satu pendaki.

“gimana pak di puncak? Bagus tidak?”, tanya eko dengan antusias.

“waduh.. hari ini ada badai di puncak dan tidak terlihat apa2”, jawab bapak tersebut dengan rasa kecewa.

“sayang banget ya pak”, respon eko.

“ke ranu kumbolo masih jauh nga ya pak”, tanya saya yang penasaran tidak sampai2.

“oh.. da deket dik, paling tinggal beberapa kilo”, jawabnya santai.

“ow.. da deket ya pak”, jawab saya dengan rasa sedikit ragu.

Akhirnya kita kembali berpamitan dengan kedua pendaki tersebut dan melanjutkan perjuangan kita menuju ranukumbolo yang katanya sangat indah sekali pemandangannya.

Kali ini hans yang memimpin rombongan diikuti eko, eni, kevin dan terakhir saya. Sekali-kali saya yang berada di urutan terbelakang harus berteriak mengingatkan hans yang berjalan terlalu cepat sehingga rombongan menjadi terpisah. (maklum di urutan ketiga ada cewe..hahaha.. tidak bermaksud mendiskriminasi kaum hawa). Tanpa berhenti lagi kita tempuh jalur yang terasa tidak ada habisnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan masih belum melihat ada tanda2 mendekati ranukumbolo (ya iyalah, namanya di hutan..hahaha..)

Capek juga berjalan tanpa henti. Tiba2 tanpa disadari pemandangan di sebelah kiri kita yang sebelumnya hanya pepohonan berubah drastic menjadi sebuah siluet yang sudah sedikit familiar dengan ingatan saya. Pemandangan ranukumbolo dari ketinggian yang saya lihat difoto2, sekarang ternyata terpampang di depan mata saya.

“Yeee..”, semuanya bersorak senang.

Tanpa diberi perintah sebuah kamera SLR, punya mas kevin, langsung meninggalkan tempat dia bernaung jika sedang istirahat. Perasaan lelah dan bete seketika pergi meninggalkan rombongan kita. Seperti biasa yang paling narsis mbok eni meminta dijepret terus. Puas sudah mendokumentasikan momen ini, kita melanjutkan sedikit lagi perjalanan kita menuju tempat para pendaki lainnya mendirikan tenda.

Sampailah kita di tempat yang terus membayangi pikiran kita selama 4 jam perjalanan dari ranupani. Indah sekali ranukumbolo. Suasana siang itu asik sekali, matahari tidak sedang menunjukkan kebesarannya. Tidak panas dan tidak dingin.

Sambil meregangkan persendian kaki, tas ransel berisi makanan kembali dibuka, dan keluarlah sebungkus kacang garuda ukuran besar. Usai beristirahat sejenak, pembagian tugas pun dimulai, ada yang mendirikan tenda, mengambil air minum yang sangat sangat segar dari ranu-nya, juga tidak ketinggalan menyiapkan peralatan masak memasak.

Menu siang itu adalah nasi putih dengan lauk ikan sarden kalengan. Panitia memasaknya adalah Eko dan Hans. Karena kurangnya pengalaman hiking bahan bakar untuk memasak kita  menggunakan paraffin dengan dudukan pancinya yang sederhana sekali. Seharusnya kita dapat menggunakan kompor gas yang kecil untuk memasak. Menggunakan paraffin cukup ribet dan lama untuk mematangkan sepiring nasi.

Tidak tahu kenapa, tujuan awal memasak beras menjadi nasi malah berubah menjadi bubur. Tapi ya bagi saya tidak masalah, yang penting ada yang bisa dimakan. Dan ternyata lumayan nikmat makan bubur ditemani ikan sarden kaleng.

Selesai menyuap para naga dalam perut dan karena tidak ada kerjaan, kita berencana membuat api ungun waktu malamnya. Saya dan kevin pergi mencari kayu dan ranting. Sedikit sekali hasil hunting kayunya. Merasa terlalu sedikit, si Eko pergi untuk mencari lagi bersama kevin. Ternyata mang Eko punya maksud lain selain pergi mencari kayu. Sambil pergi ke pinggiran hutan mencari kayu, mang Eko meng-unload sisa olahan makanan diperutnya. Benar-benar manusia beruntung yang bisa boker di mana dan kapan saja semaunya.

to be continue..

This entry was posted in jalan-jalan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s