Kenaikan BBM di Indonesia

Harga minyak mentah dunia yang sebelumnya diprediksi hanya akan mencapai 95 dollar ternyata menjadi 125 dollar. Kesalahan prediksi membuat pemerintah harus mengeluarkan tambahan subsidi terhadap bbm dalam jumlah yang besar dan juga dalam waktu yang singkat. Lonjakan harga minyak mentah dunia membuat perbedaan yang sangat besar terhadap APBN dalam hal subsidi bbm. Berdasarkan keterangan Menteri Keuangan, untuk setiap kenaikan 1 dollar, pemerintah harus menambah subsidi sebesar 3 triliun per tahun untuk bbm yang bersubsidi. Dengan kondisi seperti di atas, pemerintah dituntut untuk mencari sumber pemasukan selain menaikan harga bbm bersubsidi untuk menyelamatkan APBN tahun 2008.

Melihat beban APBN yang telah melampaui batas, pemerintah akhirnya mengambil keputusan yang kurang populer yaitu menaikkan harga bbm bersubsidi. Keputusan pemerintah dinilai terlalu cepat diputuskan. Hanya berlandaskan bahwa masyarakat yang menikmati subsidi bbm sebagian besar adalah masyarakat golongan menengah ke atas.  Kemudian dana untuk subsidi bbm tersebut akan dialokasikan untuk membantu kaum miskin. Memang benar bahwa yang menikmati subsidi bbm adalah masyarakat golongan menengah ke atas, tetapi perlu dilihat bahwa harga bbm bersubsidi juga berdampak terhadap perindustrian yang secara tidak langsung berpengaruh ke lapisan masyarakat bawah. Seperti misalnya dengan naiknya harga bbm menyebabkan cost untuk memproduksi pupuk naik, kemudian biaya produksi beras yang menggunakan cukup banyak pupuk pasti akan naik juga. Dengan naiknya harga beras, rakyat Indonesia yang baru saja dilanda krisis pangan yang menyebabkan harga bahan pangan naik, akan semakin menderita.

Jika dilihat dari kondisi sekarang, alasan seperti yang disebutkan di atas sangatlah tidak masuk akal karena bisa dilihat bahwa pemerintah menaikkan harga bbm dikarenakan harga minyak mentah naik drastis. Jika tujuan pemerintah memang untuk keadilan, harusnya pemerintah tidak boleh menunggu sampai terjadi bencana kenaikan minyak mentah dunia.

Akibat dari ketidakbijakan pemerintah, sekarang masalah yang dihadapi semakin besar dan jika tidak segera di atasi kemungkinan kita akan kembali mengalami krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 yang lalu. Dampak yang sudah terlihat saat ini adalah kenaikan harga bahan pangan dan krisis energi.

Dalam kasus kenaikan harga bahan pangan, pemerintah berusaha menanggulanginya dengan mengeluarkan BLT ( Bantuan Langsung Tunai ) kepada warga miskin sebesar 14 triliun. Penyaluran BLT dapat dilihat bahwa sebenarnya juga bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusuhan dengan skala nasional. Selain itu dana BLT sebesar itu akan lebih berguna jika dialokasikan untuk membantu masyarakat miskin dengan cara misalnya memberikan pendidikan gratis, membangun puskesmas dengan memberikan fasilitas biaya pengobatan gratis, menciptakan lapangan pekerjaan baru, atau memberikan pinjaman dengan bunga 0 %.

Kenaikan bbm juga mengakibatkan terjadinya krisis energi yang membuat sebagian masyarakat di Jawa harus mengalami pemadaman listrik bergantian. Kekurangan pasokan bbm dari Pertamina dan ketersediaan batubara dari dalam negri yang terbatas yang membuat pihak PLN kekurangan bahan bakar untuk menjalankan generator pembangkit listriknya. Banyak industri terutama industri tekstile mengalami kerugian dengan pemadaman listrik tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Pihak industri berharap pemerintah dapat paling tidak mengeluarkan jadwal pemadaman untuk mencegah kegagalan produksi. Selain itu di kalangan usaha menengah juga mengalami hal yang hampir sama, misalnya seperti seorang pengusaha warnet yang tidak bisa melanjutkan usahanya jika terjadinya pemadaman.

Dilihat dari sudut pandang perekonomian, kenaikan harga bbm juga dapat menyebabkan inflasi yang saat ini sudah tinggi menjadi semakin tinggi dan bisa berakibat fatal. Dengan inflasi yang tinggi membuat daya beli masyarakat turun dan berdampak pada semua sektor industri yang kehilangan pasar. Lesunya pasar dapat membuat para investor mengurangi investasinya yang pada akhirnya akan menggangu roda perekonomian.

Jadi menurut saya, keputusan pemerintah menaikan bbm pada saat ini kurang tepat. Padahal masih banyak alternatif lain yang bisa diambil misalnya melakukan peningkatan produksi minyak dalam negri, mencari sumber energi alternatif, dan meningkatkan pendapatan dari sektor non-migas.

08 Juni 2008

This entry was posted in sosial ekonomi politik budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s