Krisis Pangan

Isu krisis pangan sekarang menjadi topik yang sudah tidak asing lagi. Krisis pangan kali ini sudah menjalar ke seluruh dunia dan sudah tidak pandang bulu. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat juga merasakannya karena di sana untuk pembelian berasnya juga dibatasi untuk mencegah kekurangan ke depannya karena diprediksi harga bahan pangan akan terus naik. Di negara berkembang juga mengalami hal yang sama. Kelangkaan bahan pangan ini ada hubungannya dengan beberapa faktor yaitu kenaikan harga minyak,perubahan iklim, dan peralihan negara agraris menjadi negara industri.

Faktor pertama terjadinya kelangkaan bahan pangan adalah masalah perubahan iklim yang disebabkan global warming. Kenaikan suhu udara banyak terjadi di daerah khatulistiwa  di mana merupakan daerah penghasil pangan terbesar.  Itu membuat suhu air laut naik dan mengakibatkan curah hujan di sana menjadi tinggi dalam jangka waktu pendek dan kemudian bakal terjadi kemarau yang panjang yang menyebabkan kekeringan. Perubahan iklim ini sangat mempengaruhi hasil panen para petani.

Krisis pangan juga berawal karena terjadinya kenaikan harga minyak mentah dunia. Dampak dari kenaikan harga minyak mentah mengakibatkan harga-harga barang naik karena biaya produksi barang-barang yang kita gunakan sehari-hari ada hubungannya dengan minyak mentah. Termasuk bahan pangan. Harga minyak yang naik secara drastis mengakibatkan negara-negara miskin dan berkembang belum siap menghadapinya karena biasanya di negara-negara tersebut mereka mengontrol harga BBM dengan melakukan subsidi pada sektor tersebut. Jika dalam waktu singkat mereka harus menahan kenaikan harga minyak yang berarti subsidi tehadap minyak juga harus ditingkatkan, itu akan menggangu sistem perekonomian negara tersebut. Jadi tidaklah mungkin pemerintah di negara-negara tersebut melakukan subsidi sepenuhnya. Dan oleh karena harga minyak naik maka harga barang-barang akan naik juga termasuk harga bahan pangan karena harga bibit dan pupuk otomatis juga akan naik. Oleh sebab itu para petani di negara berkembang ini tidak bisa menggunakan kesempatan ini untuk meraup untung sebanyak-banyaknya. Selain itu para petani juga harus memenuhi kebutuhan hidup lainnya yang harganya juga pada naik.

Jika dilihat dari segi teknologi, kenaikan harga minyak mengakibatkan banyak negara maju dalam penggunaan bahan bakarnya beralih dari menggunakan bahan bakar fosil menjadi biofuel. Sedangkan bahan baku untuk pembuatan biofuel itu adalah sebagian besar dari bahan pangan misalnya jagung. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang menggunakan jagung sebagai bahan pembuat biofuel akan mengimpor jagung dalam jumlah yang besar untuk memenuhi seluruh kebutuhan industrinya. Hal ini  membuat kebutuhan akan jagung meningkat dan mendorong negara-negara penghasil pangan mengganti produksi tanaman pangannya. Sehingga produksi pangan lainnya seperti beras akan terganggu.

Faktor terakhir adalah peralihan negara-negara berkembang menuju negara-negara industri. Di beberapa negara berkembang yang sebelumnya merupakan negara agraris sudah mulai bergerak ke arah industri karena mereka melihat bahwa dengan mengembangkan sektor industri dalam negri akan menaikkan pertumbuhan ekonomi mereka. Hal ini terjadi di Cina dan Vietnam yang sebelumnya merupakan suplai bahan makanan sekarang sudah berangsur-angsur bergerak ke arah industrialisasi. Sebenarnya adanya krisis pangan sekarang adalah akibat dari peralihan negara agraris ke negara industri yang sedikit demi sedikit mengurangi produksi pangan mereka. Dari peralihan di atas yang paling terpukul adalah kaum petani karena sebagian dana untuk membangun pertanian seperti misalnya membangun sistem irigasi atau melakukan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul dialihkan untuk membangun industri. Akibatnya adalah banyak kaum petani terutama yang muda berpindah profesi dengan mengadu nasib ke kota yang pada akhirnya sebagian besar pengangguran yang menjadi masalah baru.

Krisis pangan kali ini merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh seluruh negara. Jadi diharapkan semua negara maju maupun berkembang turut membantu negara-negara miskin yang tidak bisa menghadapi krisis kali ini. Selain itu bagi negara-negara penghasil pangan untuk meningkatkan hasil pangan mereka kembali dengan support dari negara-negara maju dalam segi dana atau penelitian untuk menghasilkan bibit unggul. Setelah krisis pangan dapat dilewati, ini akan menjadi pelajaran untuk dunia terutama negara penghasil bahan pangan untuk membenahi sistem produksi pangannya. Mungkin dari permasalahan di atas kita dapat mencontoh kebijakan negara Thailand yang terkenal sebagai Negara penghasil pangan dengan tidak melupakan perindustriannya.

01 Mei 2008

This entry was posted in sosial ekonomi politik budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s